FILOSOFI HIDUP MASYARAKAT SUKU JAWA BERDASARKAN PANCASILA

 

FILOSOFI HIDUP MASYARAKAT SUKU JAWA BERDASARKAN PANCASILA

Oleh: Dewi Fajariyanti

Program Akuntansi STIE MBI Depok

NIM 22020066



A. Sejarah Lahirnya Pancasila

    PANCASILA secara Etimologis istilah “pancasila” berasal dari Sansakerta dari India (Bahasa Kasta Berahmana) adapun bahasa rakyat biasa adalah bahasa Prakerta. Menurut Muhammad Yamin, dalam bahasa sansekerta perkataan “Pancasila” memiliki dua macam arti secara leksial yaitu “panca” artinya “lima” dan “syila” vokal 1 pendek artinya “batu sendi”, “alas”, atau “dasar”. Sama halnya dengan arti kedua yaitu “syiila” vokal i pendek artinya “peraturan tingkah laku yang baik, yang penting atau yang senonoh”.
Istilah pancasila telah dikenal sejak zaman kerajaan Sriwijaya dan Majapahit dimana sila-sila yang terdapat dalam pancasila itu sudah diterapkan dalam kehidupan masyarakat meskipun sila-sila tersebut belum dirumuskan secara konkrit. Menurut kitab Sutasoma Karang Mpu Tantular, pancasila berarti ” berbatu sendi yang lima “ atau “ pelaksanaan kesusilaan yang lima”. Sejarah pancasila tidak hanya dirumuskan oleh pemimpin nasional. Namun ada juga tokoh-tokoh bangsa yang berstatus Ulama yang urun rembug dalam perumusanya termasuk yang dari kalangan “Nahdlatul Ulama“ kaliber KH. Wahid Hasyim dan kalangan lainya semisal muhammadiah.
    Dengan keberadaan ulama-ulama tersebut tentu berdampak pada wujud rumusan pancasila yang islami, pancasila yang secara praktis menampilan kerahmatan lil’alamin ajaran islam. Bukan pancasila yang sepi dari nilai-nilai keislaman selain itu, pancasila sebagai ideologi dan dasar negara, sebenarnya memiliki keselarasan dengan ajaran islam sebagai agama yang mayoritas penduduk bangsa Indonesia.
    Pancasila telah mampu menompang dan mengakomodir berbagai suku, ras, dan agama yang ada di Indonesia. Secara harfiah reformasi memiliki arti suatu gerakan untuk memformat ulang, menata ulang atau menata kembali hal-hal yang menyimpang untuk di kembalikan pada format atau bentuk semula sesuai dengan nilai-nilai ideal yang dicita-citakan rakyat.


B. Pancasila sebagai falsafah bangsa Indonesia

    Pancasila adalah isi dalam jiwa bangsa Indonesia yang turun-menurun lamanya terpendam bisu oleh kebudayaan barat. Dengan demikian, pancasila tidak saja falsafah negara, tetapi lebih luas lagi, yakni falsafah bangsa Indonesia.
Pancasila sebagai dasar filsafat negara serta sebagai filsafat hidup bangsa Indonesia pada hakikatnya merupakan suatu nila-nilai yang bersifat sistematis, fundamental dan menyeluruh. Maka sila-sila pancasila merupakan suatu kesatuan yang bulat dan utuh, hierarkhis dan sistematis. Dalam pengertian nilai inilah maka sila-sila pancasila merupakan suatu sistem filsafat. Konsekuensinya kelima sila bukan terpisah-pisah dan memiliki maknasendiri-sendiri, melainkan memiliki esensi serta makna yang utuh.
    Dasar pemikiran filosofis yang terkandung dalam setiap sila dijelaskan sebagai berikut. Pancasila sebagai filsafat bangsa dan negara republik Indonesia, mengandung makna bahwa dalam setiap aspek kehidupan kebangsaan, kemasyarakatan dan kenegaraan harus berdasarkan nilai-nilai keutuhan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan.
Filsafaat kenegaraan bertolak dari suatu pandangan bahwa negara adalah merupakan suatu persekutuan hidup manusia atau organisasi kemasyarakatan yang merupakan masyarakat hukum (legal society). Adapun negara yang didirikan oleh manusia itu berdasarkan pada kodrat bahwa manusia sebagai warga negara sebagai persekutuan hidup adalah berkedudukan kodrat bahwa manusia sebagai warga negara sebagai persekutuan hidup adalah berkedudukan kodrat manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa (hakikat sila pertama).
    Nilai-nila pancasila bersifat objektif dapat dijelaskan sebagai berikut: Rumusan dari sila-sila pancasila itu sendiri sebenarnya hakikat maknanya yang terdalam menunjukan adanya sifat-sifat yang umum universal dan abstrak, karena merupakan suatu nilai. Inti nilai-nilai pancasila akan tetap ada sepanjang masa dalam kehidupan bangsa Indonesia dan mungkin juga pada bangsa lain baik dalam adat kebiasaan, kebudayaan, kenegaraan, maupun dalam kehidupan keagamaan. Pancasila yang terkandu dalam pembukaan UUD 1945, menurut ilmu hukum memenuhi syarat sebagai pokok kaidah yang fundamental negara sehingga merupakan suatu sumber hukum yang positif di Indonesia.

Sumber : google pulau Jawa

C. Sejarah Suku Jawa di daerah Purworejo

Suku jawa adalah suku bangsa terbesar di Indonesia yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada tahun 2010, setidaknya 40,22% penduduk Indonesia merupakan etnis Jawa. Selain itu, suku Jawa ada pula yang berada di negara Kaledonia Baru dan Suriname, karena pada masa kolonial Belanda suku ini dibawa ke sana sebagai pekerja. Saat ini suku Jawa di Suriname menjadi salah satu suku terbesar di sana dan dikenal sebagai Jawa Suriname. 
Mayoritas orang Jawa adalah umat Islam, dengan beberapa minoritas yaitu Kristen, Kejawen, Hindu, Buddha, dan Khonghucu. Meskipun demikian, peradaban orang Jawa telah dipengaruhi oleh lebih dari seribu tahun interaksi antara budaya Kejawen dan Hindu-Buddha, dan pengaruh ini masih terlihat dalam sejarah, budaya, tradisi, dan bentuk kesenian Jawa. Dengan populasi global yang cukup besar, suku Jawa menjadi kelompok etnis terbesar keempat di antara umat Islam di seluruh dunia, setelah bangsa Arab, suku Bengali, dan suku Punjab. Suku Jawa juga memiliki cabang-cabang suku lain atau Sub suku antara lain suku Osing, suku Tengger dan suku Samin.


     Sumber : google  Jawa Tengah

Menurut sejarah, nama Purworejo baru muncul pada abad ke-19, ketika Karesidenan Bagelen dibagi menjadi beberapa kadipaten, salah satunya Kadipaten Purworejo. Raden Tumenggung Cokrojoyo kemudian diangkat sebagai bupati pertama Purworejo dan mengganti namanya menjadi Raden Adipati Arya (RAA) Cokronegoro. Perubahan nama itu terjadi pada 27 Februari 1831, yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Lahir Kabupaten Purworejo. Purworejo berasal dari dua kata, yaitu purwo yang berarti awal, terdepan, atau maju, dan rejo yang artinya makmur. Sehingga, arti Purworejo adalah daerah yang mengawali untuk maju, unggul dalam berbagai bidang, serta menjadi masyarakat yang makmur dan mulia.
Wilayah Purworejo diketahui sudah ditinggali oleh penduduk sejak 901. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya Prasasti Kayu Ara Hiwang di Desa Boro Wetan. Pada prasasti tersebut, diketahui bahwa pada 5 Oktober 901, dilakukan upacara besar yang diikuti oleh para pejabat dari berbagai daerah. Mereka adalah Watu Tihang (Sala Thang), Gulak, Parangran Wadihadi, Padamuan (Prambanan), Mntyasih (Matesh Magelang), Mdang, Pupur, Raji (Raji Prambanan), dan Kalungan (Kalongan). Kala itu, wilayah Purworejo masih disebut Bagelen, yang sangat disegani wilayah lain karena ditinggali oleh banyak tokoh besar. Contohnya seperti Sunan Geseng, ulama besar yang mengislamkan wilayah dari Timur Lukola hingga ke Yogyakarta dan Magelang. Pada masa Kerajaan Mataram Islam, para tokoh Bagelen adalah pasukan dari Sutawijaya, yang kemudian berkuasa dengan gelar Panembahan Senopati. Baca juga: Panembahan Senopati, Pendiri Kerajaan Mataram Islam Kemudian, pada masa Perang Diponegoro (1825-1830), wilayah Bagelen menjadi salah satu medan pertempuran. Pada saat itu, Bagelen dijadikan karesidenan oleh pemerintah Hindia Belanda. Dalam perkembanganya, Bagelen dibagi menjadi beberapa kadipaten, salah satunya Kadipaten Purworejo, dengan bupati pertamanya RAA Cokronegoro. Pada 1936, Gubernur Jenderal Hindia Belanda menggabungkan Kadipaten Purworejo, Kutoarjo dan sebagian wilayah Urut Sewu/Ledok, menjadi Kabupaten Purworejo. Kota Purworejo sejak itu menjadi kota tangsi militer yang diisi oleh tentara Belanda dan tentara Afrika Barat, yang dikenal sebagai Belanda hitam.

D. Nilai-nilai Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dalam budaya suku Jawa di Purworejo yang terbagi dalam masing-masing sila Pancasila sebagai berikut:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

Di desa Purworejo yang mana mayoritas masyarakatnya muslim bahkan hampir semuanya menyambut gembira datangnya bulan syawwal. Banyak kegiatan dan tradisi yang dilaksanakan untuk memperingati bulan syawwal, dan ada satu kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya yakni tradisi grebegsyawwal. Kegiatan ini dilaksanakan 7 hari setelah hari raya Idul Fitri atau banyak menyebutnya dengan hari raya Kupatanyang diadakan di masjid-masjid arau tempat ibadah lainnya.
Dalam pelaksanaannya grebeg syawwal memiliki makna tersendiri karena masih dalam suasana hari kemenangan dan bisa berkumpul bersama keluarga yang sebelumnya bertempat di luar kota. Kegiatan grebegsyawwal dilakukan di pagi hari antara 6 sampai jam 8 yang diikuti perwakilan laki-laki dari setiap anggota keluarganya. Mereka ke masjid dengan membawa makanan khas hari raya seperti opor ayam yang ditaruhnya dalam satu wadah yang ditutup kain atau sejenisnya, kemudian di dalam masjid mereka semua saling kumpul satu sama lainnya dengan makanan di depan masing-masing.
Pemimpin acara grebeg syawwal di buka oleh sesepuh setempat atau modin di setiap dukuhnya. Untuk rangkaian acaranya yakni membaca tahlil dan kalimah thoyyibah yang semuanya di niatkan untuk berdo’adan meminta keselamatan kepada Allah SWT agar kedepan bisa lebih baik. Setelah acara selesai semua yang datang saling bersalam-salaman mengingat masih dalam suasana lebaran, tidak sedikit dari mereka yang saling mencicipi makanan yang mereka bawa satu sama lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada rasa saling menghormati dan saling rukun diantara warga masyarakat desa Purworejo. Selesai acara tersebut mereka yang ikut grebegsyawwal pulang ke rumah masing-masing untuk memberikan makanan yang telah di bacakan do’a yang kemudian diberikan kepada keluarga supaya mendapatkan keberkahan juga.


2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

    Di antara nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung dalam tradisi tahlilan di Sapen, Bagi masyarakat Sapen, pelaksanaan tahlilan memiliki peran dan fungsi tersendiri dalam kehidupan mereka. Salah satu fungsinya adalah sebagai media untuk silaturrahmi antar warga Sapen. Sebagaimana diketahui bersama bahwa tradisi tahlilan merupakan acara yang tidak dilakukan pribadi atau oleh individu-individu, melainkan berupa kegiatan kemasyarakatan yang dilakukan oleh banyak orang dan bertempat di satu tempat.


     Maka melalui tahlilan, masyarakat bisa saling bertatap muka langsung dan berkomunikasi antar satu dengan yang lainnya. Selain itu, solidaritas warga Sapen atau guyup warga sehingga mereka yang dulu pernah didatangi ke rumahnya untuk tahlilan mendoakan anggota keluarga yang meninggal merasa berhutang budi dan merasa berkewajiban untuk membalas kedatangan jika salah satu tetangga melakukan tahlilan atau acara serupa

3. Persatuan Indonesia

Jolenan Somongari


Jolenan yaitu tradisi masyarakat yang sudah dilaksanakan secara turun temurun. Salah satu dari tradisi upacar merti desa di Purworejo tepatnya berada di Desa Somongari yang menjadi salah satu Warisan Budaya Takbenda pada tahun 2016 dengan  SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 244/P/2016 dan bersertifikat Jolenan Somongari nomor 63379/MPK.E/KB/2016 pada tanggal 8 Oktober 2019 guna domain Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan. 
Jolenan berasal dari kependekan pada 2 kata Jawa “Ojo Klalen” atau jangan lupa terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesubuan dan curahan hasil yang berlipat ganda. Seperti yang diketahui, Desa Somongari selama ini dikenal sebagai sentra penghasil manggis dan durian yang cukup bagus di Purworejo.Jolen adalah sejenis gunungan, terbuat dari anyaman daun laren atau daun enau, dengan rangka bambu dan gedebok pisang (pelepah pisang). Di luar Jolenan dihiasi aneka jajanan yang digantung di bilah bambu yang tertanam di kedebog, sedangkan kedebog dipasang di dalam dan di kerangka gunungan. Makanan ringan ini antara lain rengginang dari beras ketan, Ledre atau Opak, binggel dari ketela dan makanan lainnya.Tradisi Jolenan ini biasanya dilakukan setiap dua tahun sekali di bulan Sapar. Selain itu, bulan Sapar biasanya bertepatan dengan masa panen di masyarakat Desa Sumongari. Tradisi Jolenan banyak digunakan sebagai sarana menjaga tali silahturahmi, terutama untuk masyarakat Somungari yang berimigrasi ke tempat lain atau merantau ke kota lain. Hal ini dapat diamati pada tradisi Jolenan selama dilaksanakan dengan jumlah masyarakat perantauan yang pulang lebih banyak dari pada saat hari raya Idul Fitri.

4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmad Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan

Salah satu fenomena sosial pada masyarakat Jawa adalah budaya manut dalam proses pengambilan keputusan yang melibatkan sekelompok orang. Manut dalam Bahasa Jawa tentu berbeda dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia yang identik dengan istilah ikut-ikutan. Budaya manut ini sering ditemukan dalam berbagai kesempatan seperti rapat, perkumpulan masyarakat, forum, dan berbagai ajang pengambilan suara. Banyak alasan orang terpengaruh dengan sikap manut sehingga dengan demikian memungkinkan menjadikan budaya manut tersebut dapat bermakna positif maupun negatif.


Dengan keberadaan masyarakat Jawa yang memiliki sifat narima ing pandum yaitu sifat yang melekat. Karena masyarakat Jawa memiliki sifat rukun menurut Magnis-Suseno (2003) Prinsip kerukunan memang senantiasa menuntut kerelaankerelaan tertentu yaitu untuk mencegah konflik orang harus bersedia untuk menerima kompromi, harus sering kali rela untuk tidak memperoleh haknya dengan sepenuhnya. Masyarakat Jawa juga cenderung menghindari konflik seperti dalam suatu keputusan selalu berdasarkan hasil rembugan. Rembugan yang dilakukan masyarakat Jawa sama halnya dalam proses musyawarah pada agama Islam.

5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

    Pancasila yang merupakan ideologi negara Indonesia dapat membentuk karakter masyarakat sekitar melalui sebuah kebudayaan rajaban. Salah satu kebudayaan yang tumbuh pada masyarakat di daerah Jawa Tengah dengan adanya kecintaan dalam kebudayaan daerah. Pada kebudayaan Rajaban ini, terdapat banyak sekali nilai-nilai Pancasila yang dapat di kembangkan pada masyarakat sekitar. Dengan adanya nilai-nilai tersebut masyarakat juga mengetahui sebagaimana kebudayaan tersebut tidak tergerus dengan kebudayaan asing dan tetap menganut nilai-nilai Pancasila itu sendiri. Hubungan nilai-nilai Pancasila pada kebudayaan rajaban ini sangatlah erat. 


Menumbuh kembangkan nilai Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia yaitu dengan adanya sosialisasi dan keterbukaan kepala desa ataupun pejabat desa terhadap hal apa atau kegiatan apa saja yang telah mereka rancang untuk di musyawarahkan bersama-sama demi kelancaran dan kepentingan bersama. Pejabat daerah yang tidak hanya berpangku tangan terhadap keluh kesah ataupun kegiatan yang dilaksanakan oleh masyarakatnya terutama adat istiadat pada kebudayaan rajaban ini yang telah dilaksanakan dari tahun ke tahun dan telah di jadikan sebagai kebudayaan resmi dari Jawa Tengah ini, membuat pejabat daerah dengan senang hati membantu dan memeriahkan kegiatan ini sebagai bentuk pengenalan di daerahnya adanya kebudayaan yang masih ada hingga sekarang dan masih di lestarikan hingga sampai saat ini. Sehingga nilai keadilan sosial ini telah tercermin dengan adanya hubungan antara pejabat daerah dengan masyarakat desa Prawoto yang insentif.

 Simpulan

    Realisasi pelaksanaan Pancasila sebagai dasar falsafah negara, sehingga tertanam nilai-nilai Pancasila dalam rangka mencegah terjadinya konflik antar suku, agama dan daerah. Serta menghindari adanya keinginan pemisahan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia maka perlu dilakukan secara berangsur-angsur kepada lapisan masyarakat tentang pemahaman lebih mendalam mengenai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Sehingga akan timbul jiwa persatuan dan kesatuan. Oleh karena itu, Negara Kesatuan Republik Indonesia mencantumkan sesanti Bhineka Tunggal Ika pada lambang Negara persatuan dan kesatuan tidak boleh mematikan keanekaragaman dan kemajemukan sebagaimana kemajemukan tidak boleh menjadi faktor pemecah belah, tetapi harus menjadi sumber daya yang kaya untuk memajukan kesatuan dan kesatuan itu.

    Pancasila hadir sebagai bentuk dari ideologi, dasar dan landassan idiil Indonesia. Lima sila dalam Pancasila menunjukkan ide-ide fundamental mengenai manusia dan seluruh realitasnya dalam kehidupan Bersama dengan perbedaan suku, ras, agama, dan budaya. Meskipun demikian, tetap Bersatu dan saling melengkapi yang dibungkus dengan bingkai kebhinekaan hidup gotong-royong sesuai dengan konsep budaya Jawa. Yang diyakini kebenarannya oleh bangsa Indonesia dan bersumber pada watak, kebudayaan Indonesia dan dilandasi dengan berdirinya Negara Indonesia.

Daftar Pustaka

Times Indonesia. Pancasila sebagai Falsafah Bangsa Indonesia.

Diakses pada 28 Mei 2023, dari https://timesindonesia.co.id/kopi-times/242455/pancasila-sebagai-falsafah-bangsa-indonesia

Kompas.com. Asal-usul nama dan sejarah nama Purworejo. Diakses pada 28 Mei 2023, dari

https://www.kompas.com/stori/read/2022/02/10/110000679/asal-usul-nama-dan-sejarah-purworejo?page=all#:~:text=Menurut%20sejarah%2C%20nama%20Purworejo%20baru,Adipati%20Arya%20(RAA)%20Cokronegoro

 

Desa Purworejo. Grebeg Syawal. Diakses pada 28 Mei 2023, dari http://desa-purworejo.kuduskab.go.id/index.php/34-profil/169-budaya-dan-tradisi-keagamaan-desa-purworejo-grebeg-syawwal-sedekah-bumi-dan-nguras-sendang.html

Jurnaldialog. Tradisi Tahlilan di Sapen. Diakses pada 28 Mei 2023, dari

https://jurnaldialog.kemenag.go.id/index.php/dialog/article/view/485/229

Bidang Pembinaan Kebudayaan. Jolenan Somongari. Diakses pada 28 Mei, dari 

http://kebudayaan.pdkjateng.go.id/2021/05/07/jolenan-somongari-tradisi-di-desa-purworejo/

Jurnalblog. Budaya Manut dalam pengambilan keputusan di Jawa. Diakses pada 28 Mei 2023, dari 

https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/11617/1758/B4.%20Gugus-UMS%20%28fixed%29.pdf?sequence=1&isAllowed=y

Munawaroh, Nafiah Ika. Kebudayaan Rajaban di Desa Prawoto. Diakses pada 28 Mei 2023, dari http://prosiding.upgris.ac.id/index.php/SNKIII/SNK2018/paper/viewFile/3084/3031

Komentar

Postingan populer dari blog ini

INOVASI DALAM MENEMBUS PASAR BISNIS DI ERA DIGITAL